
Bukan Cuma Anak yang Perlu Didengar: Bekal Komunikasi untuk Orang Tua Mendampingi Anak Remaja
Artikel ini merupakan konten kerja sama (sponsor) Pandu Tumbuh dengan Transformasi Indonesia, lembaga pengembangan diri dan sumber daya manusia.
Banyak artikel parenting fokus pada apa yang perlu dilakukan anak remaja agar lebih terbuka ke orang tuanya. Yang lebih jarang dibahas: keterampilan komunikasi orang tua sendiri juga punya andil besar, dan itu sesuatu yang bisa dipelajari dan diasah — bukan cuma bawaan naluri sebagai orang tua. Kami sudah membahas pentingnya komunikasi terbuka antara siswa dan orang tua dari sisi anak — artikel ini melengkapi dari sisi orang tua: bekal apa yang bisa dipelajari orang tua sendiri agar pendampingan anak remaja terasa lebih ringan.
Kenapa Nasihat Orang Tua Sering Tidak Sampai
Anak remaja secara alami sedang membangun identitas dan otonomi dirinya sendiri — bukan berarti mereka menolak orang tua, tapi mereka menolak diperlakukan seperti anak kecil yang harus selalu dikte. Nasihat yang disampaikan dengan nada menggurui, sekalipun niatnya baik, sering diterima sebagai kontrol, bukan kepedulian. Di sinilah keterampilan komunikasi orang tua — bukan isi nasihatnya — jadi penentu apakah pesan itu benar-benar sampai.
Mendengarkan Sebelum Menasihati, Sekalipun Sebagai Orang Tua
Salah satu prinsip yang diajarkan dalam pelatihan pengembangan diri dan coaching adalah mendengarkan aktif tanpa buru-buru menyela dengan solusi. Ketika anak remaja bercerita tentang masalah pertemanan atau tekanan sekolah, dorongan alami orang tua adalah langsung menawarkan solusi. Padahal, seringkali yang lebih dibutuhkan anak di momen itu adalah merasa didengar dulu — solusi bisa menyusul setelah anak merasa ceritanya benar-benar diterima, bukan langsung dipotong.
Ini bukan berarti orang tua harus diam saja atau tidak boleh menasihati — tapi urutannya yang berubah: dengarkan dan pahami dulu perasaan di balik cerita anak, baru masuk ke solusi atau nasihat, dan itu pun disampaikan sebagai ajakan berdiskusi, bukan instruksi satu arah.
Belajar Keterampilan Ini Secara Terstruktur
Keterampilan komunikasi dan pengelolaan emosi semacam ini adalah bagian dari yang diajarkan Transformasi Indonesia, lembaga pengembangan diri dan SDM yang didirikan oleh Dr. Iwan D Gunawan, S.S., M.Pd. — selain latar akademik di bidang pendidikan (doktor Pengembangan Kurikulum UPI & Ohio State University), beliau juga dikenal sebagai . Bagi orang tua yang merasa kewalahan mendampingi anak remaja dan ingin mengasah keterampilan komunikasinya secara lebih terstruktur, pelatihan pengembangan diri semacam ini adalah salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan — di luar dukungan yang sudah tersedia lewat guru BK di sekolah anak.
Suka artikel ini? Coba Pandu Tumbuh gratis untuk sekolah Anda.
Coba Pandu Tumbuh Gratis untuk Sekolah Anda →Dapatkan Update Terbaru
Berlangganan newsletter Pandu Tumbuh untuk mendapatkan tips bimbingan dan konseling dan pembaruan fitur.
Diskusi Artikel
Komentar baru ditinjau sebelum ditampilkan.
Belum ada komentar yang disetujui.
Silakan masuk untuk berkomentar.