
Krisis Kecanduan Gawai Remaja dan Peta Jalan Gerakan Literasi Nasional 2026–2029: Jawaban dari Tingkat Sekolah
Indonesia punya masalah literasi digital yang sudah lama diketahui, tapi baru mulai dijawab secara nasional secara terstruktur. Di satu sisi, data pemerintah menunjukkan mayoritas remaja Indonesia berisiko kecanduan gawai. Di sisi lain, Kemendikdasmen baru menyusun peta jalan resmi untuk memperkuat literasi nasional. Artikel ini merangkum kedua sisi itu, lalu menunjukkan bagaimana satu sekolah negeri di Tasikmalaya sudah lebih dulu menerjemahkan agenda besar ini menjadi program harian yang benar-benar berjalan — bukan sekadar wacana.
Skala Masalahnya: Data yang Sudah Lama Ada
Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), penggunaan gawai oleh remaja usia 13–19 tahun mencapai 73,7% — setara sekitar 25,5 juta pengguna — dengan 46% remaja laki-laki dan 48% remaja perempuan masuk kategori berisiko kecanduan gawai. Survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan sekitar 71,3% anak usia sekolah memiliki gadget dan memainkannya dalam waktu cukup lama setiap hari, dengan 55% di antaranya menghabiskan waktu itu untuk game online maupun offline.
Angka-angka ini bukan hal baru bagi guru BK dan wali kelas — mereka melihatnya setiap hari di ruang kelas. Yang sering hilang justru jawabannya: bagaimana mengubah kebiasaan itu tanpa sekadar melarang, di sekolah dengan sumber daya terbatas.
Peta Jalan Gerakan Literasi Nasional 2026–2029: Baru Disusun, Belum Sampai ke Kelas
Menjawab keprihatinan atas rendahnya budaya literasi nasional, Kemendikdasmen melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tengah menyusun Peta Jalan Gerakan Literasi Nasional (GLN) periode 2026–2029, sebagai tindak lanjut Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 155/P/2025 tentang Kelompok Kerja Gerakan Literasi Nasional. Penyusunannya dibahas dalam rapat kerja di Jakarta pada 23 Desember 2025, dengan tujuan memperkuat budaya literasi secara terintegrasi, terukur, dan berkelanjutan di seluruh sektor pendidikan.
Ini kabar baik — tapi peta jalan tingkat nasional secara wajar butuh waktu untuk turun jadi program yang benar-benar dijalankan guru di kelas. Pertanyaan yang lebih mendesak bagi sekolah: apa yang bisa dikerjakan sekarang, sambil menunggu peta jalan nasional matang?
Jawaban dari Tasikmalaya: Nedulatas Pedia dan One Day One Link
Suka artikel ini? Coba Pandu Tumbuh gratis untuk sekolah Anda.
Coba Pandu Tumbuh Gratis untuk Sekolah Anda →Dapatkan Update Terbaru
Berlangganan newsletter Pandu Tumbuh untuk mendapatkan tips bimbingan dan konseling dan pembaruan fitur.
Diskusi Artikel
Komentar baru ditinjau sebelum ditampilkan.
Belum ada komentar yang disetujui.
Silakan masuk untuk berkomentar.